Selasa, 28 Juni 2016

Kisah Pilu Ratam, Pedagang Asongan yang Meninggal di Tengah Rusuh Suporter

KabarTerbaru24.com | Kuningan - Aksi kebrutalan oknum suporter menyisakan luka bagi para korban. Salah satunya adalah warga di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, yang harus kehilangan salah satu anggota keluarganya.

Kisah Pilu Ratam, Pedagang Asongan yang Meninggal di Tengah Rusuh Suporter

Korban bernama Ratam (63) ditemukan tak bernyawa dalam kondisi tersungkur. Di wajahnya ada luka. Ratam adalah pedagang minuman asongan yang saat kejadian tengah mengais rezeki di sekitaran Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

"Memang meninggalnya itu karena jantung. Dan saat lagi jualan terjadi bentrok, mungkin kakak saya itu panik dan kaget jadi sakit jantungnya kambuh," jelas adik kandung korban, Rahmat (61), Selasa (28/6/2016).

Saat ditemukan, kondisi kakaknya tersungkur masuk ke dalam sebuah parit. Sementara di bagian wajahnya terdapat luka yang diduga bekas lemparan benda tumpul. "Kalau dagangannya sudah gak ada, hilang semua," ucapnya.

Rahmat menuturkan, kakaknya sudah sejak lima tahun lalu merantau ke Jakarta untuk mengais rezeki sebagai pedagang asongan di daerah Senayan. Hal itu dilakukannya usai ditinggal meninggal sang istri, sementara ketiga anaknya yang terdiri dari dua orang laki-laki dan seorang perempuan tinggal di Dusun Pahing, Desa Mungkaldatar, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan.

"Saya dan keluarga tidak ada dendam apa pun. Saya berharap semoga tidak kembali terulang, dan cukup kakak saya jadi korban," katanya.

Sementara itu Ketua DPD Partai Golkar, Dedi Mulyadi, menyempatkan diri menemui Rahmat dan untuk memberikan santunan usai membuka Musda DPD Partai Golkar Kuningan di Kawasan Wisata Sidomba, Kabupaten Kuningan.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi datang ke RS Polri Kramat Jati, Senin 27 Juni 2016, untuk menjenguk polisi korban bentrokan suporter sepak bola di GBK (Foto: Jabbar Ramdhani/detikcom)

Pria yang akrab disapa Kang Dedi itu menilai kasus serupa tidak boleh terjadi lagi di kemudian hari. Pasalnya secara tidak langsung banyak orang yang menjadi korban baik secara fisik mau pun material.

"Kementerian terkait, Polri, dan TNI harus duduk bersama segera merumuskan apa yang harus dilakukan. Suporter di Indonesia ini sudah seperti agama baru yang fatwa pemimpinnya harus dilakukan, meskipun itu membunuh lawan sekali pun," beber Dedi.

Bagi Dedi, keberadaan suporter anarkis mencoreng citra Indonesia yang menjunjung tinggi keberagaman Bhinneka Tunggal Ika. "Ini bisa masuk kategori teror dan cikal perpecahan keberagaman di Indonesia. Ini harus segera dicari solusi dan tindakan tegas agar tidak lagi terulang," pungkas Bupati Purwakarta itu. 
(try/try)


Source : [news.detik.com]

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon